7 Jul 2010

Abang, Kakak, Koko, Gan, Boss, Sir, Om, Pak, Mas dan lain sebagainya

Dari panggilan-panggilan sejenis, saya paling tidak nyaman dipanggil Om, Gan, Sir dan Kakak. Yang lainnya terserah, silahkan panggil saya Bang, Mas, Kang, Pak atau nama (sebaiknya Bin, bukan Rob) atau yang lainnya. Sebagai catatan, dipanggil 'Koko' saya suka, karena kesannya licik tapi bijak. Sementara itu, 'Boss' juga menyenangkan, karena saya jadi merasa sehat, gendut dan kaya.   

Omong-omong masalah panggilan, saya pernah bekerja dengan employer orang Indonesia dan orang Asing. Dengan orang Indonesia, pimpinan selalu dipanggil dengan awalan "Pak", sementara dengan orang Asing, cukup nama depan saja. Yang lucu, kalau sudah campur aduk. Penyebabnya mungkin kebiasaan basa-basi busuk. Padahal, ini sebenarnya masalah penggunaan bahasa yang baik, yang tidak relevan sama sekali dengan sikap hormat gaya orang timur. Misalnya: manggil orang bule 'Pak Steve', atau 'Ibu Sarah'. Aneh aja dengarnya, harusnya panggil saja nama depannya. Atau di surat-menyurat dimulai dengan pembukaan, 'Dear Pak Ketut". Duh! Kenapa ngga 'Dear Ketut' kalau berbahasa Inggris atau 'Yth Pak Ketut' aja sih? 

Di lain pihak, memang seringnya kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain memanggil kita. Tapi dalam komunikasi resmi, orang yang mengerti etika komunikasi biasanya bertanya dulu, "Saya manggil apa ya sebaiknya?".  Baru kita sarankan, kita lebih nyaman dipanggil apa. Misalnya,"Panggil saja saya 'Nyet'!".

Sent from my iPhone

3 Jul 2010

Dugem

Dugem, atau apalah namanya. Yang saya artikan sebagai "pergi keluar rumah bersama teman-teman ke klub malam". 

Jadi semalem saya dugem, karena ingin ketemu dengan Indra dan Mira. Setelah beberapa lama berada di dalam salah satu klub di daerah Seminyak, saya jadi ingat kenapa saya berhenti dugem sejak beberapa tahun yang lalu.

Sebagai klarifikasi, saya tidak ada masalah dengan dugem; budaya dan komunitasnya. Banyak teman saya tiap malam dugem. Dan pada masanya, saya mendapat banyak keuntungan di dugem. Keuntungan? Iya. Anda harus dugem seaktif saya baru ngerti maksud saya. Ya gitu deh. 

Tapi serius nih. Yang membuat saya berhenti dugem adalah (1) musik di klub malam buruk. Dan, (2)  mereka memasangnya dengan volume sangat keras. 

Kombinasi yang aneh. Saya ngga ngerti, kenapa orang bisa betah berlama-lama di klub malam yang berisik itu. Saking keras musiknya, kalau ingin ngobrol, mulut harus di tempel di telinga lawan bicara. Hanya agar lawan bicara bisa mendengar apa yang kita katakan. Masalah volume terlalu keras ini juga yang membuat saya berhenti nonton film di bioskop sejak sekitar 7-8 tahun yang lalu. Setiap saya selesai nonton bioskop, kuping saya budeg. Aneh. Ada yang salah dengan pengaturan sound system mereka. Keduanya, pengaturan di klub malam dan di bioskop. Jika saja saya bisa mengatur volume musik sendiri, mungkin sampe sekarang saya masih dugem dan nonton bioskop (hmm... tapi ngga tau juga sih).

Walhasil, semalam saya ngomel-ngomel di Twitter, dan teman banyak yang menjawab omelan saya (thanks! :D). Pagi ini saya baru sadar, kenapa saya ngomel-ngomel. Jadi, saya ingat pada masa suka dugem, yang selalu saya kerjakan dengan teman-teman adalah nongkrong di depan klub malam. Bukan berada di dalam klub malamnya.  Di luar, musiknya pas. Ngga terlalu keras. Masih bisa ngobrol dan ngerjain hal lain. Nah, semalam, saya harus berada di dalam, karena tidak ada seorangpun yang nongkrong di luar. Sampe saya bingung, koq di klub malam ngga ada yang nongkrong di luar.

Sent from my iPhone
2 Jul 2010

Lucu Aja - Sifat Manusia Dengan Nama Depan "R"

Anda orang yang sangat logis dan sangat berorientasi pada tindakan. Anda butuh seseorang yang dapat mengikuti langkah dan secara intelektual menyamai, lebih cerdas lebih baik. Anda menjadi bergairah lebih cepat karena dorongan pikiran dibanding badan yang indah. Namun ketertarikan fisik amat penting bagi Anda. Anda harus merasa bangga pada pasangan.
Ga jelas itu analisa darimana, karena link nya ke Kaskus thread (yang bukan sumber). Tapi ya, lucu aja, koq saya ngerasa pas dengan analisanya! :D

 

Sent from my iPhone
1 Jul 2010

Blogging ala Seth Godin

Sejak mengikuti blog Seth Godin dari tahun 2005, saya tidak pernah mengerti bagaimana Seth bisa mendapat minimal 1 ide setiap hari untuk ditulis di blog nya. Sampai suatu hari saya mendengar interview beliau di Duct Tape Marketing.

Mengulang jawaban Seth ketika John Jantsch bertanya bagaimana Seth bisa mendapat ide setiap hari:

 "Saya malah heran dengan orang yang tidak bisa mendapat ide setiap hari"

Bener banget. Ide selalu datang setiap hari. Ide baik maupun buruk. Masalahnya banyak orang (seringkali termasuk saya), tidak sadar bahwa ide itu bisa disimpan setiap hari. Ide Seth pun tidak selalu benar, tapi itu bukan masalah. Banyak contoh orang berhasil, menyimpan dan mengumpulkan ide untuk mengembangkan diri. Begitu pula Seth.

Bentuknya tidak usah blog, bisa apa saja. Tapi dalam kasus Seth, ide disimpan di blog dan dibagikan ke semua orang. Ide yang dibagi-bagikan itu bisa lebih bernilai lagi jika ditulis dengan sederhana dan jujur, ala Seth Godin.


Sent from my iPhone
1 Jul 2010

Panggilan Untuk Pendukung Creative Commons

Yang terhormat pendukung Creative Commons,

Minggu lalu, ASCAP mengirimkan surat pengumpulan dana pada anggota-anggotanya, mengajak mereka untuk berperang dengan 'musuh' seperti Creative Commons (CC). Mereka memberikan keterangan salah dengan mengatakan kami bekerja untuk "merusak hak cipta".

Lisensi CC adalah lisensi hak cipta - sederhana. Titik. Lisensi CC adalah alat hukum yang dapat digunakan pencipta untuk menawarkan penggunaan karya mereka, secara sebagian atau keseluruhan, kepada publik. Tanpa hak cipta, peralatan ini tidak akan bekerja dan berguna. Artis dan perusahaan rekaman yang ingin menyediakan musiknya kepada publik untuk digunakan, seperti penyebaran non komersil atau remix, sebaiknya mempertimbangkan untuk menggunakan lisensi CC. Sementara itu, Artis dan label yang ingin menutup penggunaan hak cipta mereka, sebaiknya tidak menggunakan lisensi CC. 

Banyak musisi, termasuk Nine Inch NailsBeastie BoysYoussou N'DourToneDavid ByrneRadioheadYunyuKristin Hersh, dan Snoop Dogg, telah menggunakan lisensi CC untuk berbagi dengan publik. Musisi-musisi ini tidak bermaksud untuk berhenti mencari uang lewat musik mereka. Malah kenyataannya, banyak artis yang menggunakan lisensi CC, juga merupakan anggota dari Collecting Society, termasuk ASCAP. Makanya, kami mendengar kampanye fitnah ini - ketika banyak musisi pendukung CC yang menerima email tersebut, dan meneruskannya kepada kami. Beberapa dari mereka malah memberikan sumbangan kepada Creative Commons. 

Jika Anda juga tidak menerima taktik kotor ASCAP, saya berharap Anda juga menolong kami, dengan memberikan sumbangan - dan menyebarkan pesan - di saat-saat yang kritis ini. Kami tidak memiliki staff untuk melobi pejabat dan pihak yang berwajib, tetapi dengan dukungan dan bantuan Anda, kami dapat bekerja keras untuk mewakili para pencipta dan konsumen yang berpikiran serupa.

Dengan tulus,

Eric Steuer
Direktur Kreatif, Creative Commons

*Untuk latar belakang kampanye anti Creative Commons dari ASCAP, lihat Boing BoingTechdirtZeroPaid, dan Wired.

Email asli disini.
Entry di blog Creative Commons disini.
29 Jun 2010

Nyanyian Brooklyn Ngga Fals, Yay!

Saya ingin Brooklyn belajar musik. Bukan karena saya bekas musisi dan ingin dia jadi musisi. Sebenarnya malah saya tidak ingin dia jadi musisi, karena masih banyak pekerjaan menarik lain di dunia ini selain jadi musisi (seriously!).

Tapi, belajar musik itu penting, untuk suplemen dan pengasah otak manusia. Berbagai riset menyatakan bahwa orang yang menguasai instrumen musik (ngga mesti musisi, tapi orang yang menguasai instrumen musik secara aktif), lebih pintar daripada orang yang tidak menguasai instrumen musik sama sekali. Bahkan, insinyur-insinyur terbaik di Silicon Valley, hampir tanpa kecuali, merupakan orang-orang yang menguasai instrumen musik dengan aktif (sumber). Jadi, belajar musik itu tidak ada ruginya sama sekali.

Yang saya ingat selama bermain musik, salah satu prasyarat orang bisa mahir menguasai instrumen musik adalah memiliki suara yang tidak fals dan bisa mengikuti ketukan (tentunya, ada perkecualian). 

Sekarang pertanyaannya, mengapa musti sampai mahir sih? Begini. Jika orang bisa belajar musik sampai mahir, maka dia harus menghabiskan waktu cukup banyak waktu untuk belajar memainkan instrumen. Semakin banyak waktu yang dia habiskan untuk belajar instrumen musik, semakin terasah otaknya. Gitu.

Yang menyenangkan, dari beberapa kali melihat dan mendengar Brooklyn nyanyi (dan menari), suaranya pas dan dia tidak kesulitan menari mengikuti ketukan. Seperti bisa dilihat di video dan audio dibawah ini:

 <span>Twinkle2 by lowrobb</span> 

http://audioboo.fm/boos/136568-i-love-you-you-love-me-we-are-happy-family-na-na-na.mp3">Listen!

Yay! Come on Brooklyn!

Sent from my iPhone
27 Jun 2010

Permisi, Ada Domain Gratis?

Salah satu salah kaprah orang tentang segala yang online adalah segala yang ada di internet itu gratis. Sehingga, ekspektasinya, selalu cari yang "gratis".

Harga domain .com, .net, .org dan sejenisnya itu murah. Malah, kelewat murah. Kenapa masih pengen yang 'gratis'? Anda memang tidak punya uang, atau tidak mau keluar uang? Bedanya tipis memang, ngga setebal tembok di RRC, tapi tetap beda.

Domain gratis? Ya ada lah... .co.cc, .tk, dan sejenis 'domain spam' lainnya.


Sent from my iPhone

27 Jun 2010

Tinggal di Kuta, Layak?

Sejak tinggal di Bali tahun 2002, saya ngga pernah jauh-jauh tinggal dari Kuta. Pernah tinggal di Jimbaran, cuma kuat 6 bulan. Dibanding daerah lain di Bali, kecuali wilayah expat, biaya hidup di Kuta lebih tinggi. Tapi, karena kebanyakan pekerjaan saya berkutat di seputar Kuta, jadi sampai sekarang saya masih memilih tinggal di Kuta karena jadi lebih murah.

Yang paling bikin senang tinggal di Kuta adalah, dekat dengan pusat wisata. Jadi kalau bosan, tinggal nyetir mobil 1-2 jam di seputar Kuta & Legian, saya sudah merasa 'wisata ke Bali' dan bisa ngeliat yang aneh-aneh seperti di bawah ini, orang Jepang lagi lamaran di depan umum di pinggir pantai (untung diterima :D). Wisata murah :p

Kuta ceria selalu, karena orang-orang yang liburan ekspresi muka nya ngga ada yang cemberut. Jadi, ya sejauh ini layak lah untuk tempat hidup.


Sent from my iPhone

27 Jun 2010

Testing Post to new Posterous

Bisa gak? Ini untuk blogging tentang hidup secara umum, dan tinggal di Bali.
Sent from my iPhone

Robin Malau's Posterous

I'm an Entrepreneur & Educator. Fulltime Partimer. Music Industry & Heavy Metal Veteran. Wordpress rocker. Social Media Hooligan. And i blog at Posterous too!