3 Jul 2010

Dugem

Dugem, atau apalah namanya. Yang saya artikan sebagai "pergi keluar rumah bersama teman-teman ke klub malam". 

Jadi semalem saya dugem, karena ingin ketemu dengan Indra dan Mira. Setelah beberapa lama berada di dalam salah satu klub di daerah Seminyak, saya jadi ingat kenapa saya berhenti dugem sejak beberapa tahun yang lalu.

Sebagai klarifikasi, saya tidak ada masalah dengan dugem; budaya dan komunitasnya. Banyak teman saya tiap malam dugem. Dan pada masanya, saya mendapat banyak keuntungan di dugem. Keuntungan? Iya. Anda harus dugem seaktif saya baru ngerti maksud saya. Ya gitu deh. 

Tapi serius nih. Yang membuat saya berhenti dugem adalah (1) musik di klub malam buruk. Dan, (2)  mereka memasangnya dengan volume sangat keras. 

Kombinasi yang aneh. Saya ngga ngerti, kenapa orang bisa betah berlama-lama di klub malam yang berisik itu. Saking keras musiknya, kalau ingin ngobrol, mulut harus di tempel di telinga lawan bicara. Hanya agar lawan bicara bisa mendengar apa yang kita katakan. Masalah volume terlalu keras ini juga yang membuat saya berhenti nonton film di bioskop sejak sekitar 7-8 tahun yang lalu. Setiap saya selesai nonton bioskop, kuping saya budeg. Aneh. Ada yang salah dengan pengaturan sound system mereka. Keduanya, pengaturan di klub malam dan di bioskop. Jika saja saya bisa mengatur volume musik sendiri, mungkin sampe sekarang saya masih dugem dan nonton bioskop (hmm... tapi ngga tau juga sih).

Walhasil, semalam saya ngomel-ngomel di Twitter, dan teman banyak yang menjawab omelan saya (thanks! :D). Pagi ini saya baru sadar, kenapa saya ngomel-ngomel. Jadi, saya ingat pada masa suka dugem, yang selalu saya kerjakan dengan teman-teman adalah nongkrong di depan klub malam. Bukan berada di dalam klub malamnya.  Di luar, musiknya pas. Ngga terlalu keras. Masih bisa ngobrol dan ngerjain hal lain. Nah, semalam, saya harus berada di dalam, karena tidak ada seorangpun yang nongkrong di luar. Sampe saya bingung, koq di klub malam ngga ada yang nongkrong di luar.

Sent from my iPhone